Wayang wong, suguhan istimewa di malam minggu Yogyakarta!

Mendiami relung hati terdalam setiap penikmat kesenian kuno di sepanjang wilayah Jawa Bagian Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, Wayang Wong bertahta sebagai level tertinggi dari apresiasi masyarakat terhadap sejarah masa lampau. Kekayaan seni disampaikan melalui perpaduan gerak tari dan olah suara serta irama gamelan tidak pernah absen dalam memukau setiap peminatnya.

Sabtu, 1 Desember 2018 Pagelaran Wayang Wong “Karna Tanding” diselenggarakan sebagai salah satu perayaan Dies Natalis¬†alumni Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Bertepat di Gedung PKKH dengan bintang tamu Didik Nini Towok dan Yati Pesek serta bonus free entry menambah sejumlah kenikmatan dan warna dalam perjalanan saya ke Yogyakarta. Jadi, kebetulan seorang teman saya adalah salah satu aktivis dan artis lokal di Yogyakarta. Saya mendapatkan banyak pengalaman budaya jawa konservatif darinya.

Wayang Wong adalah salah satu dari sekian banyak kebudayaan Jawa yang hingga kini masih dapat kita rasakan eksistensinya. Biasanya kisah yang diceritakan dalam dalam kesenian Wayang Wong adalah Mahabharata dan atau Ramayana. Keduanya menceritakan pertarungan antara kejahatan dan kabaikan dan merujuk kepada masyarakat untuk selalu berbuat baik.

Mahabhrata memiliki inti cerita seputar konflik saudara antara Pandawa dan Kurawa mengenai sengketa pemerintahan kerajaan yang bernama Negara Astina dengan klimaks terjadinya perang Bharatayudha (perang saudara). Sedangkan Ramayana merujuk pada seputar peperangan Rama melawan Rahwana (Raja dari Buta/Monster) karena telah menculik Shinta (Istri Rama). Diceritakan pula kisah patriotisme Hanuman sesosok monyet putih yang membantu Rama dalam menyelamatkan Dewi Shinta. Kisah Mahabharata dan Ramayana ini mengilhami terciptanya beragam jenis kesenian di Jawa.

DSC01536

Kesenian serapan tersebut antara lain adalah seni arsitektur yang terlihat pada candi, seni tari, seni lukis, dan pertunjukan. Uniknya, sumber-sumber Mahabharata dan Ramayana diera kerajaan Jawa kuno banyak ditulis di daun lontar yang berisi tentang filosofi-filosofi kehidupan sosio-budaya-politik masyarakat Jawa.

Wayang Wong telah menyatu dalam jiwa masyarakat Jawa konservatif dan merupakan seni kebudayaan yang paling banyak digandrungi. Iringan tarian dan gamelan serta tata panggung jawa kuno yang disajikan seakan mengajak semua penontonnya untuk kembali ke jaman dimana lelakon diperankan.

Wayang Wong diciptakan oleh Sultan Hamangkurat I pada tahun 1731 dan pertama kali dipentaskan secara terbatas pada tahun 1760 di wilayah Surakarta. Kemudian pada masa pemerintahan Mangkunegara V pertunjukan Wayang Wong mulai diperkenalkan lebih memasyarakat, walaupun masih tetap terbatas dinikmati oleh kerabat keraton dan para pegawainya. Pengenalan kesenian Wayang Wong kepada masyarakat hampir bersamaan waktunya dengan lahirnya kesenian tari tradisional Langendriyan.

Pada masa pemerintahan Mangkunegara VII (1916 -1944) kesenian Wayang Wong mulai diperkenalkan pada masyarakat di luar tembok keraton. Usaha memasyarakatkan kesenian ini semakin pesat ketika Sunan Paku Buwana X (1893-1939) memprakarsai pertunjukan Wayang Wong bagi masyarakat umum di Balekambang, Taman Sriwedari. Pada masa itu, Wayang Wong juga mulai dipertunjukan pada Pasar Malam yang diselenggarakan di Alun-Alun. Hingga kini Wayang Wong telah dinikmati oleh banyak kalangan masyarakat, dan para pemainnya pun bukan lagi hanya para Abdi Dalem Kerajaan, melainkan juga orang-orang dari luar keraton yang berbakat menari.

DSC01232

Leave a Reply